-->

ads

Jumat, 09 April 2021

Terungkap Ini Penyebab Kelangkaan Puput di Wajo

Terungkap Ini Penyebab Kelangkaan Puput di Wajo


SUARA RAKYAT.NEWS, WAJO - Kelangkaan pupuk subsidi terus dikeluhkan petani. Persoalan kelangkaan pupuk bersubsidi seakan menjadi persoalan klasik yang setiap tahun diteriakkan namun tak kunjung menemukan solusi. Termasuk di Kabupaten Wajo.

Ha inipun tidak dipungkiri Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo, Ir Muh Ashar saat di temui di Kantornya jl.Bau Baharuddin, Sengkang, Jumat (22/12021).
 
Ir Muh Ashar mengatakan, masalah pupuk bersubsidi memang akan selalu kurang. Karena kebutuhan dan kuota yang diberikan pemerintah tidak pernah cukup.

“Masalah pupuk bersubsidi ini memang akan selalu langka. Karena berdasar RDKK 2020, ada 67 ribu petani kita di Wajo yang membutuhkan 52 ribu ton lebih pupuk. Sementara jatah pupuk subsidi yang diberikan hanya 27 ribu ton lebih,”ungkapnya.

Sehingga otomatis, kata Muh Ashar, kuota 27 ribu ton ini hanya bisa menutupi 50% dari pendaftaran yang ada di RDKK.

Belum lagi tambahnya, ada peraturan Menteri No 1 tahun 2020, yang mengatur untuk padi sawah dan perkebunan, pemerintah hanya bisa membantu pupuk subsidi, maksimal hanya untuk 2 Ha lahan saja.

“Jadi sebenarnya pemerintah sudah atur, untuk lahan padi sawah dan perkebunan jatahnya 2 Ha satu petani. Nah yang jadi masalah kalau si petani punya 5 Ha, lalu punya lagi tambak, pasti tidak pernah cukup. Jadi yang teriak itu sebenarnya, yang si petani yang punya lahan luas ini. Karena jatah sudah jelas. Jadi petani yang 2 Ha kebawa tidak masalah, pupuknya cukup,” terangnya.
 
Namun begitu, sebagai solusi untuk menanggulangi kekurangan tersebut, yang dilakukan hanya mengambil jatah dari daerah lain.

“Yang bisa kita lakukan untuk menambah pupuk bersubsidi meminta kuota dari daerah lain. Seperti Luwu yang kurang area pertaniannya. Karena kita tawarkan pupuk non subsidi mereka tidak mau,” jelas Muh Ashar.

Senada, Kadis Perikanan Kabupaten Wajo, Ir Nasfari menambahkan, jatah pupuk bersubsidi untuk petani tambak hanya 1 Ha/orang.
 
“Tapi setelah kita mengkaji, di Kecamatan Bola dan Penrang misalnya, 50% petani tambak di sana juga punya sawah. Sehingga kalau sudah dapat pupuk tambak mau juga sawah, sementara lahannya luas. Otomatis akan selalu ada masalah kelangkaan,”

Sementara kata dia, kuota jatah pupuk subsidi untuk Wajo semakin dikurangi, di sisi lain objek-objek yang mau dipupuk semakin bertambah.

“Maka solusi kita tawarkan, petani tambak beralih ke budidaya udang faname karena selain tidak terlalu banyak menggunakan pupuk, budidaya udang faname juga masa panen relatif singkat 2 bulan saja sudah ada hasil,” cetusnya. (Adv)
Don't Miss

News Feed